Sahabat Lawas
Lima belas tahun memang bukan waktu yang singkat untuk kita dapat menuliskan makna diri
kita diatas kertas-kertas nasib.
kita dan tujuan hidup kita.
mengabadikan kenangan dalam album-album masa yang telah lalu.
berganti menurukan berbagai muatan kesan dan pesan untuk kita renungkan di masa yang akan
datang, menjadi obat duka kita dimasa senja.
namun sarat makna telah kuletakkan sebagai api semangat didalam diriku.
sahabat kucoba meraih segala impianku perlahan mulai kuangkat wajahku menengadah menatap
masa esok. Kukuatkan mataku untuk terus menatapnya lekat-lekat walau perih terasa
dikedua bola mataku dan air mata menggenangi wajah lusuhku. Kuhirup udara harapan dalam-
dalam dan kuhembuskan rasa pesimisku menjadi butir-butir embun yang membasahi tubuhku.
Pelan-pelan kucoba berdiri sekuat mungkin, walaupun kadang kaki ini tak mau menurut,
membuatku berulang kali jatuh. Namun kau ulurkan tanganmu, kau raih lenganku dan
mengangkatnya dengan sekali hentakan kuat yang membuatku berdiri tegak lepas dari
keterpurukanku.
melewatinya. Saat peluh membasahi wajahku, kualihkan pandanganku kepadamu, dan kaubalas
menatap, sambil tersenyum kau mengusapkan tanganmu pada keningku, dan kurasakan embun
sejuk mengalir dalam tubuhku, lalu kembali kutatap esok dan kembali menyongsongnya.
ini menyapaku. Dan tanpa kau, mungkin akan kulewatkan pemandangan hidup itu lewat di
depan mataku. Tanpa kau, mungkin aku hanya menjadi penonton permainan matador, tanpa
pernah berpikir untuk menjadi pejuang di arena permainan nasib.
pundakku, dan kau membiarkanku berdiri dengan kekuatanku sendiri. Dan kau berkata,”Ini
adalah hidupmu, maka raihlah dengan hatimu”.Lalu kau berpaling menjauh dariku tanpa
menoleh ke belakang, meninggalkanku dan mencari jalan hidupmu sendiri.
melompat-lompat girang. Kadang hening menyurutkan keberanianku, namun suaramu terus
menyulutnya supaya tak pernah padam.
tak kunjung padam. Aku sekarang mulai mengerti makna kehidupanku sendiri, aku mulai tahu
siapa aku, dan aku mulai kenal dengan sisi-sisi lainku, yaitu sisi yang rindu akan
kenangan.
bayanganku, kadang saat gundah menghampiriku, hanya dengan membayangkan tatapanmu yang
teduh, maka dapat kuraup kembali semangatku. Dan kadang kau masih saja mendatangi mimpi-
mimpiku, mengajakku kembali ke masa lalu dan saat aku terbangun, kudapati wajahku merona
merah dan aku siap menantang hidup sekali lagi.
Mereka semua berdatangan
Dan kemudian mereka pergi
Lalu datanglah kau
Lima belas tahun juga bukan sejengkal waktu untuk kita bisa menceritakan siapa kita, apa
Lima belas tahun juga bukan waktu sekilas untuk kita belajar memaknai kehidupan dan
Lembaram demi lembaran kisah lama silih berganti merapat di pelabuhan hidup. Silih
Satu dari sobekan kecil lembaran itu kini melekat di dalam benakku. Sebuah kisah kecil
Sebuah warna baru di dalam hidupku muncul empat tahun yang lalu .Dari tangan seorang
Kau papah aku melewati jalan berbatu , dengan langkah terseok-seok kukuatkan niatku untuk
Semakin lama semakin banyak pengalaman hidup yang telah kulihat di sekitar jalan geragal
Dan setelah kaurasa aku cukup kuat menapakinya sendiri, kau lepaskan tanganmu dari
Kini tinggal aku sendiri, tanpa teman.
Kadang aku tersungkur sampai lututku luka penuh darah, kadang aku menyanyi riang sambil
Dan kini, tak terasa sudah lima belas tahun aku hidup mengarungi lautan perjuangan yang
Meski kinipun kau tak lagi menemaniku menangis bersama, namun kau tetap hidup dalam
Mereka mencoba membuatku tertawa
Mereka mengajakku bermain
Sebagian bermain untuk bersenang-senang dan
Sebagian untuk dikenang
Meninggalkan aku di tengah reruntuhan permainan
Tanpa tahu yang mana yang harus di kenang dan
Yang mana untuk sekedar bersenang-senang, dan
Meninggalkan aku dengan gema dari tawa
Yang bukan milikku
Dengan caramu yang lucu,
Tidak seperti orang lain
Dan kau membuatku menangis tersedu-sedu
Dan tampaknya kau tidak perduli meski aku menangis
Kau bilang permainan sudah selesai
Dan menunggu
Sampai seluruh air mataku berubah menjadi
Kebahagiaan…………….



.:Comment from myfriend:.