11
Aug
08

LIMA KATA BIJAK

Pada jaman dahulu hidup seorang pemuda tampan bernama Ram Singh yang, meskipun disenangi oleh setiap orang, adalah orang yang tidak bahagia karena ia mempunyai seorang ibu tiru yang kasar bicaranya dan suka mengomel. Sehari-hari ia terus saja ngomong, sampai si pemuda bingung bahwa ia memutuskan untuk pergi saja mengadu nasib. Tak lama setelah ia memutuskan untuk pergi sesuai dengan rencana-rencananya, dan esuk hari itu juga ia berangkat pergi dengan membawa beberapa potong pakaian dalam sebuah bundelan dan sedikit uang di sakunya.

Tapi ada satu orang di desa itu yang ingin ia ucapkan selamat tinggal, dan ialah seorang guru tua yang bijak, yang telah mengajarnya tentang banyak hal. Maka ia menolehkan mukanya pertama-tama menuju pondokan gurunya dan, sebelum matahari bersinar terang, ia mengetuk pintunya.

Orang tua ini menerima muridnya dengan penuh kasih sayang; tapi ia adalah orang yang bijak dalam membaca berbagai wajah, dan seketika melihat bahwa si pemuda itu sedang ada masalah. “Anakku,” katanya tenang, “ada apa dengan dirimu?”

 

“Tak ada apa-apa, guru?” jawab si pemuda, “tapi aku telah memutuskan untuk pergi merantau ke seluruh dunia dan mengadu nasibku.“Berlakulah bijak,” kata sang guru, “tetaplah tinggal di rumah ayahmu. Lebih baik makan separoh potong roti di rumah daripada mencari sepotong utuh di negara-negara yang jauh.”

Tapi Ram Singh tidak bermaksud sungguh-sungguh dalam memberikan nasehat semacam ini, dan dengan segera wanita tua itu berhenti menekannya.

“Baiklah,” akhirnya ia berkata, “jika pikiranmu sudah bulat, kukira kau harus menentukan jalanmu sendiri. Tapi dengarkan baik-baik, dan ingat lima nasehat perpisahan yang akan aku berikan kepadamu; jika kau selalu menjaganya maka kau tidak akan gagal. Yang pertama, selalu patuhilah tanpa pertanyaan segala perintah orang yang menjadi majikanmu. Kedua, jangan sekali-kali bicara kasar atau menyakitkan kepada siapapun. Ketiga, jangan sekali-kali kau berbohong. Keempat, jangan sekali-kali mencoba untuk tampil menyamai orang-orang yang kedudukannya di atasmu. Dan yang kelima, ke mana saja kau pergi, jika kau bertemu orang-orang yang membaca atau mengajarkan kitab-kitab suci, berdiamlah dan dengarkan, barang beberapa menit saja, niscaya kau akan memperoleh kekuatan dalam mengerjakan pekerjaan.”

Kemudian Ram Singh mulai perjalanannya, setelah berjanji dalam hati kata-kata orang tua yang bijak itu.

 

 

Setelah beberapa hari ia tiba ke sebuah kota besar. Semua uang yang ia bawa tela habis, dan oleh karena itu ia berkeputusan untuk mencari kerja, meskipun pekerjaan yang kasar sekalipun. Setelah melihat sekilas seorang pedagang yang tampak sangat sukses yang sedang berdiri di depan sebuah toko biji-bijian, Ram Singh bertanya kepadanya apakah ia dapay memberinya pekerjaan apa saja.

Si pedagang menatapnya begitu lama sehingga si pemuda mulai putus asa, tapi akhirnya pedagang itu menjawabnya, “Ya, tentu; ada tempat yang menunggumu.”

“Apa maksud Tuan?” tanya Ram Singh.

“Mengapa,” jawab si pedagang, “kemarin ketua Wazir Raja kami kehilangan seorang pelayannya dan sedang mencari penggantinya. Sekarang kaulah satu-satunya orang yang ia butuhkan, karena kau masih muda, tinggi dan tampan. Aku sarankan kau melamarnya ke sana.”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada si pedagang atas nasehatnya, si pemuda berangkat saat itu juga ke rumah Wazir. Berkat tampangnya dan penampilannya yang bagus, ia diterima sebagai pelayan orang besar itu.

Suatu hari, segera setelah itu, Raja mulai melakukan perjalanannya, dan ditemani oleh ketua Wazirnya. Bersama mereka sepasukan pelayan dan pengiring, para tentara, para pembawa bagal, penunggang-penunggang unta, para saudagar dengan biji-bijian dan gudang-gudang untuk manusia dan hewan, para penyanyi untuk memberikan hiburan sepanjang perjalanan dan para musisi yang menemani mereka, di samping gajah, unta, kuda, bagal, kuda kecil, keledai, kambing, dan gerobak serta kereta dari berbagai jenis dan ukuran. Rombongan itu lebih menyerupai sebuah kota besar yang sedang bergerak daripada apapun lainnya.

Demikianlah mereka bepergian sampai mereka memasuki suatu negara yang mirip seperti lautan pasir, di mana pusaran debu mengambang di awan, dan orang-orang serta hewan-hewan terasa setengah tercekik karenanya. Menjelang sore hari mereka tiba di sebuah desa. Para tetua desa segera keluar menyambut Rajah dan memberikan hormat kepadanya, tapi, dengan wajah-wajah yang sangat tegang dan serius, mereka mulai menjelaskan bahwa, meskipun mereka semua tentu patuh pada Rajah, kedatangan rombongan yang begitu besar telah membuat mereka menjadi amat sangat sulit. Mereka tidak memiliki sumur dan sumber air di negeri mereka, dengan demikian mereka tidak punya air untuk memberikan minuman kepada rombongan orang-orang dan hewan-hewan sebanyak ini!

Rombongan itu merasa amat takut begitu mendengar kata-kata para tetua desa, tapi Rajah hanya berkata kepada Wazir bahwa bagaimanapun juga ia harus mendapatkan air, dan bahwa untuk menyelesaikan persoalan ini adalah tanggungjawabnya. Dengan segera Wazir mengirimkan orang-orangnya yang paling tua di kota itu dan mulai menanyai mereka apakah ada beberapa sumur di sekitar tempat itu.

Semua orang itu saling melihat satu sama lain tanpa harapan dan tidak mengatakan apa-apa; tapi akhirnya seseorang tua dengan jenggot berwarna abu-abu menjawab, “Sesungguhnya, Tuan Wazir, ada sumur, kira satu atau dua mil dari sini, yang telah dibuat raja yang dulu beratus-ratus tahun yang lalu. Orang-orang mengatakan bahwa sumur itu besar sekali dan tak pernah kering, yang ditutupi oleh bangunan batu yang berat, dengan deretan undag-undag panjang yang menurun menuju ke air di perut bumi. Tak ada orang yang pernah berani pergi mendekatinya karena sumur itu dijaga oleh roh-roh jahat, dan diketahui bahwa siapapun yang turun ke sumur itu tidak akan pernah kembali lagi.”

Wazir membelai janggutnya dan merenung sebentar. Kemudian ia menoleh ke Ram Singh, yang berdiri di belakang kursinya. “Ada pepatah,” katanya, “bahwa tak ada seorangpun yang dapat dipercaya sampai ia diuji. Pergilah dan carilah air untuk Rajah dan orang-orangnya dari sumur itu.”

Kemudian dalam pikiran Ram Singh terlintas nasehat pertama gurunya: “Selalu patuhilah perintah orang yang kau layani tanpa banyak tanya.” Maka seketika ia menjawab bahwa ia siap melakukannya, dan ia meninggalkan tempat itu untuk mempersiapkan petualangannya. Ia mengikatkan dua bejana besar terbuat dari kuningan pada sebuah bagal, dua bejana yang lebih kecil ia ikatkan pada kedua pundaknya, dan begitu siap ia berangkat dengan orang tua dari desa itu sebagai penunjuk jalan.

Dalam waktu yang singkat mereka tiba di suatu tempat di mana beberapa pohon besar menjulang tinggi di atas negeri yang tandus itu, sementara dalam bayang-bayangnya berdiri sebuah kubah bangunan kuno. Inilah yang ditunjukkan oleh si penunjuk jalan sebagai sumur, tapi ia beralasan tidak kuat melanjutkan perjalanan karena ia sudah tua dan lelah, dan matahari telah terbenam. Maka Ram Singh menyuruhnya pulang dan ia melanjutkan perjalanannya sendirian.

Sesampainya di pohon-pohon itu, Ram Singh mengikat bagalnya, menurunkan dua bejananya yang besar dan, setelah menemukan lobang sumur itu, menuruni anak tangga kedalam kegelapan. Anak tangga itu adalah lembaran-lembaran batu pualam putih yang lebar yang berkilauan dalam bayang-bayang saat ia turun semakin dalam. Semua tampak sangat sunyi. Bahkan suara kaki telanjangnya di atas anak-anak tangga itu tampaknya menimbulkan gema dalam tempat yang sepi itu, dan, ketika salah satu bejana yang ia bawa itu terjatuh, ia berdentang begitu kerasnya sampai-sampai ia melompat.

Namun ia terus jalan, sampai akhirnya ia mencapai sebuah kolam yang begitu lebar dan manis airnya, di mana ia membasuh kendi-kendinya dengan hati-hati, kemudian mengisinya dan milai menaiki anak-anak tangga, dengan membawa bejana-bejana yang lebih ringan. Bejana-bejana yang besar begitu berat sehingga ia hanya dapat mengangkat satu buah sekali saja.

Tiba-tiba, ada sesuatu yang bergerak, dan di atasnya ia melihat seorang raksasa yang besar bediri di atas tangga! Pada satu tangannya si raksasa mendekap sejumlah tulang-belulang manusia yang kelihatan mengerikan di atas dadanya, sedangkan di tangan satunya ia memegang sebuah lampu yang memantulkan bayangan-bayangan sepanjang dinding-dinding dan membuatnya kelihatan bahkan lebih mengerikan daripada sesungguhnya.

“Bagaimana pendapatmu,” kata si raksasa, “tentang isteriku yang cantik dan molek?” Dan ia mengarahkan lampu yang ia pegang pada tulang-tulang di tangannua dan kelihatan senang melihat tulang-tulang itu.

Berarti raksasa yang malang itu pernah memiliki seorang isteri yang sangat cantik yang sangat ia cintai; tapi, ketika ia mati, ia tidak mau percaya kematiannya dan selalu membawanya ke mana-mana bahkan jauh setelah ia hanya tinggal menjadi tulang-belulang. Tentu saja Ram Singh tidak mengetahuinya, tapi dalam pikirannya terlintas nasehat kedua dari gurunya, yang melarangnya untuk berbicara kasar atau tidak menghargai orang lain; maka ia menjawab, “Sesungguhnya, tuan, aku yakin di manapun Anda tak bisa menemukan orang lain secantik isteri tuan.”

“Ah, bagus sekali penglihatanmu!” teriak si raksasa yang merasa sangat senang. “Paling tidak kau bisa lihat! Aku tidak tahu sudah berapa orang yang kubunuh karena menghina isteriku dengan mengatakan bahwa ia hanyalah tulang-belulang yang sudah mati! Kau seorang pemuda yang baik, dan aku akan membantumu.”

Demikianlah, ia meletakkan tulang-belulang itu dengan penuh kasih sayang, mengangkat bejana-bejana kuningan yang besar itu, membawanya ke atas dan meletakkannya di atas bagal dengan mudahnya sehingga semuanya sudah beres menjelang waktu Ram Singh mencapai udara terbuka dengan kendi-kendi kecilnya.

“Sekarang,” kata si raksasa, “kau telah membuatku senang, dan kau boleh meminta bantuanku. Apapun yang kau inginkan akan kulakukan untukmu. Mungkin kau ingin aku tunjukkan di mana terkubur harta karun raja-raja yang telah meninggal?” ia menambahkan dengan bersungguh-sungguh.

Tapi Ram Singh menggelengkan kepalanya ketika disebutkan harta karun itu yang terpendam itu. “Bantuan yang kuminta,” katanya, “adalah bahwa kau segera berhenti menghantui sumur ini, sehingga orang-orang bebas keluar masuk untuk mengambil air.”

Mungkin sebelumnya si raksasa mengira untuk memberikan bantuan yang lebih berat, karena wajahnya begitu ceria dan ia berjanji akan meninggalkan sumur itu pada saat itu juga. Saat Ram Singh pulang menembus kegelapan yang kelam dengan membawa beban airnya yang sangat berharga, ia melihat si raksasa melangkah pergi dengan membawa tulang-belulang isterinya yang telah meninggal.

Begitu besar rasa kagum dan suka cita dalam kamp tersebut ketika Ram Singh pulang dengan membawa air. Ia tidak bercerita tentang petualangannya bertemu dengan raksasa, tapi hanya mengatakan kepada Rajah bahwa tidak ada yang menghalangi untuk menggunakan sumur itu. Dan setelah digunakan sebagaimana biasa, dan tak seorangpun melihat si raksasa lagi.

Rajah begitu senang dengan sikap Ram Singh sehingga ia memerintahkan Wazir untuk memberikan pemuda itu kepadanya sebagai ganti salah satu dari pembantu-pembantunya sendiri. Maka jadilah Ram Singh sebagai pengawal Raja; dan saat hari-hari berlalu, Raja menjadi semakin senang kepada si pemuda karena, karena selalu memperhatikan nasehat yang ketiga dari gurunya, ia selalu jujur dan berkata benar. Nasib baiknya datang dengan cepat, sampai akhirnya Rajah menjadikannya sebagai bendaharanya, dan dengan demikian ia mencapai tempat yang tinggi di kerajaan dan memiliki kekayaan dan kekuasaan di tangannya.

Sayangnya, Rajah memiliki seorang saudara laki-laki yang sangat jahat. Saudaranya ini berpendapat bahwa jika ia bisa memanfaatkan bendara muda tersebut dengan cara ini mungkin ia bisa mencuri kekayaan Raja, sedikit demi sedikit, sebanyak yang kekayaan Rajah yang ia butuhkan. Kemudian, dengan uang, ia dapat menyogok para tentara dan sebagian dari penasehat-penasehat Raja untuk menurunkan Rajah dari tahtanya dan membunuhnya, dan ia sendiri akan berkuasa di kerjaan itu.

Tentu saja ia terlalu hati-hati untuk berkata kepada Ram Singh tentang rencana-rencana jahatnya, tapi ia mulai dengan merayunya kapan saja ia bertemu dengannya dan akhirnya ia menawarinya untuk menikah dengan anak perempuannya. Tapi Ram Singh ingat nasehat keempat dari gurunya — jangan sekali-kali tampil menyamai orang-orang yang derajatnya berada di atasnya — oleh karena itu dengan penuh hormat ia menolak penghormatan yang besar itu untuk menikahi seorang puteri. Sang Pangeran, gagal pada usahanya yang paling awal ini, sangat marah. Ia menentukan untuk menghancurkan Ram Singh dan mengatakan kepada Rajah bahwa bendaharanya telah mengatakan kata-kata yang menghina tentang kedaulatannya dan juga tentang sang Puteri.

Kata-kata apa itu tak ada seorang pun yang tahu, dan karena ceritanya tidak benar, Pangeran yang culas itupun tak tahu. Tapi Rajah menjadi sangat marah dan menjadi merah padam roman mukanya saat ia mendengar pengaduan itu, dan menyatakan bahwa sebelum kepala Ram Singh dipenggal baik ia sendiri maupun sang Puteri ataupun saudara laki-lakinya itu tidak akan makan atau minum.

“Tapi,” tambah Rajah, “aku tak ingin siapapun tahu hukuman ini dilakukan atas keinginanku, dan siapapun yang menyebut persoalan ini akan dihukum berat.” Dan dengan pernyataan ini sang Pangeran merasa sangat puas.

Kemudian Rajah mengirim seorang pengawalnya dan mengatakan kepadanya untuk membawa beberapa tentara dan berkuda saat itu juga menuju ke sebuah menara di luar kota. Jika seseorang datang untuk bertanya kapan menara itu akan selesai atau beberapa pertanyaan lain tentang menara itu, pegawai itu harus memenggal kepadalnya dan membawanya kepada Rajah. Tentang tubuhnya, harus dikuburkan di tempat itu juga. Si pegawai tua itu berpikir petunjuk-petunjuk ini agak janggal, tapi ini bukan urusannya, maka ia menerima saja dan berangkat untuk melaksanakan perintah rajanya.

Pagi-pagi sekali, Rajah, yang tidak tidur semalaman, mengirim Ram Singh. Ia menyuruhnya untuk pergi ke menara berburu yang baru dan bertanya pada orang-orang yang ada di sana bagaimana jalannya pekerjaan itu dan kapan akan selesai, dan kemudian untuk segera kembali dengan jawabannya. Ram Singh bergegas pergi atas suruhan Rajah tapi, di tengah jalan, saat ia sedang melewati sebuah kuil yang berada di pinggiran kota itu, ia mendengarkan seseorang di dalamnya sedang membaca dengan keras. Ingat akan nasehat gurunya yang kelima, ia melangkah kedalam dan duduk mendengarkan. Ia tidak bermaksud untuk tinggal lama di tempat itu, tapi menjadi begitu tertarik dengan kebijakan gurunya sehingga ia terus saja duduk, sedangkan matahari naik semakin tinggi.

Sementara itu, sang Pangeran yang culas, yang tidak berani menentang perintah Rajah, merasa sangat marah, dan sang Puteri hanya menangis perlahan-lahan di suatu pojok, menantikan kabar kematian Ram Singh sehingga ia bisa makan santapan paginya.

Berjam-jam berlalu, dan mungkin saat melihat lewat jendela, sang Pangeran tidak melihat pesuruh sama sekali. Akhirnya ia tidak sabar lagi dan, dengan segera menyamarkan sehingga tak ada seorangpun yang akan mengenalinya, ia melompat ke atas seekor kuda dan melaju menuju ke menara berburu di mana Rajah telah mengatakannya bahwa eksekusi itu dilaksanakan. Tapi, ketika ia tiba, di sana hanya ada beberapa orang saja yang sedang sibuk di bangunan itu dan sejumlah tentara yang dengan bermalas-malas mengawasi mereka.

Ia lupa bahwa ia telah menyamar dan bahwa tak ada seorangpun yang mengenalinya dan ia berteriak, “Nah, kalian, mengapa kalian hanya bermalas-malas di sini bukannya mengerjakan apa yang menjadi tujuan kalian datang kemari? Kapan pekerjaan itu diselesaikan?”

Terhadap kata-katanya ini para tentara melihat pada pejabat yang memegang komando, yang berdiri sedikit terpisah dari lainnya. Tanpa diketahui oleh sang Pangeran, ia membuat tanda rahasia, sebuah pedang mengeluarkan kilauan karena terkena sinar matahari, dan seketika sebuah kepala menggelundung ke atas tanah di bawah!

Karena sang Pangeran menyamar dengan mengenakan jambang yang sangat lebat, orang-orang yang ada tidak mengenali orang yang mati itu adalah saudara Rajah. Mereka membungkus kepala itu dengan sepotong kain dan menguburkan tubuhnya sebagaimana perintah sang komandan kepada mereka. Ketika pekerjaan ini telah beres, pejabat itu membawa kain itu dan berkuda menuju ke arah istana.

Sementara itu Rajah tiba di rumah sepulang dari dewan penasehatnya dan herannya ia tak menemukan kepala maupun saudaranya yang sedang menunggunya. Saat waktu berlalu, ia menjadi gelisah dan berpikir sebaiknya ia pergi dan melihat ada apa sebenarnya. Maka, setelah menyuruh untuk dipersiapkan kudanya, ia berkuda sendirian.

Tepat saat Rajah tiba dekat kuil Ram Singh masih duduk, bendahara muda itu, demi mendengar suara derap kuda, melihat ke atas pundaknya dan tahu bahwa penunggangnya adalah Rajah sendiri! Merasa sangat malu karena telah melupakan perintahnya, ia melompat dan segera keluar menemui tuannya, yang mengekang kudanya dan kelihatan sangat heran (sebagaimana adanya) menyaksikan dirinya masih hidup. Pada saat itu si pejabat tiba, dengan membawa bungkusannya. Ia menyambut Raja dengan muram dan, setelah turun dari kudanya, ia meletakkan bungkusan itu di jalan dan mulai membuka bungkusan tersebut, sedangkan Rajah mengawasinya dengan rasa heran dan bingung.

Ketika tali terakhir dibuka, dan kepala saudaranya ditujukkan ke hadapannya, Rajah melompat dari kudanya dan menangkap si pejabat dengan pada lengannya. Segera setelah ia bisa bicara ia menanyai orang itu tentang apa yang telah terjadi, dan sedikit demi sedikit tumbuh kecurigaan yang gelap, setelah mengatakan kepada tentara itu bahwa ia telah bertindak tepat, Rajah menarik Ram Singh pada satu sisi, dan dalam beberapa menit tahu dari dirinya bagaimana, karena mentaati nasehat gurunya, ia telah menunda melakukan perintah rajanya.

 

 

Akhirnya Raja menemukan bukti atas pengkhianatan saudaranya yang telah mati itu, dan Ram Singh terbukti tak bersalah dan sangat setia. Ia terus melayani Rajah selama bertahun-tahun dengan kesetiaan yang kuat, menikah dengan gadis yang sederajat dengan dirinya, yang dengannya ia hidup bahagia, dan mati terhormat dan disayangi oleh semua orang. Ia memperoleh beberapa anak laki-laki; dan, pada waktunya, ia juga mengajarkan lima nasehat bijak dari gurunya kepada mereka.


2 Responses to “LIMA KATA BIJAK”


  1. 1 fajarandika
    13 August 2008 at 5:35 pm

    wah..bagus ceritanya…kalo bole tau..dari mana sih inspirasinya??
    just passing by ya mbak..hmm🙂

    [fajarandika.wordpress.com]

  2. 2 fajarandika
    13 August 2008 at 5:35 pm

    wah..bagus ceritanya…kalo bole tau..dari mana sih inspirasinya??
    just passing by ya mbak..hmm🙂
    salam kenal
    [fajarandika.wordpress.com]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


.:PESAN HARI INI:.

Anda bertanggung jawab atas kehidupan anda. Anda tidak bisa terus menerus menyalahkan orang lain untuk kesalahan-kesalahan dalam hidup anda. Hidup ini sebenarnya adalah tentang melanjutkan kehidupan itu sendiri.
posted by: Oprah Winfrey

.: Archieves :.

.:Link to Myfriend:.

.:CaLenDer:.

August 2008
M T W T F S S
     
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Bagaimana Menurut Anda Tentang Blog Saya Ini?
1) Bagus banget...
2) Lumayan lah...
3) Biasa ja...
4) Aneh!!!

.:ToP CliCks:.

  • None
Search Engine Promotion Widget

.:BlOgs StaTus:.

  • 112,864 HiTs

.:some of banner:.

Free Shoutbox by ShoutCamp

%d bloggers like this: